RELASI PENGUASA DAN ULAMA’

Relasi antara penguasa dengan ulama mempunyai keterkaitan yang sangat mendasar bagaimana keduanya saling membutuhkan dan mempunyai landasan yang kuat untuk saling mengisi hal ini di jelaskan dalam sebuah Hadits (HR. Abu Na’im). Yang artinya: “Dua macam golongan manusia yang keduanya baik, baiklah masyarakat. Tetapi apabila keduanya rusak, akan rusaklah masyarakat itu”. Kedua golongan ini adalah ulama dan penguasa.

Untaian Hadits tersebut menjelaskan dua kelompok manusia dalam masyarakat. Mereka menjadi pilar utama yang bertanggung jawab penuh demi kelancaran keadilan dalam kehidupan bermasyarakat akan tetapi bukan berarti mengesampingkan dari peran dari masyarakat umum.

Penguasalah yang di kehendaki oleh seluruh masyarakat umum untuk menjalankan aturan yang telah di tetapkan Allah SWT dengan penuh keadilan sehingga mendatangkan keselamatan yang berkelanjutan. Dalam proses pelaksanaan tersebut ulama lah yang berada di garis terdepan. Untuk melakukan koreksi jika melakukan kesalahan. Hal ini disebabkan karena ulama adalah orang yang dianggap paling mampu memberikan nasehat dengan memahami aktifitas mana saja yang sesuai dengan aturan Allah SWT dan mana pula yang bertentangan.

Hal ini terbukti bahwa ulama berada di garis terdepan yang mengkoreksi penerintahan yaitu tatkala banyak Presiden RI yang pertama (Ir. Soekarno) ketika meminta pendapat kepada pemimpin Islam tentang prinsip-prinsip yang akan di masukkan dalam ideologi nasional yang mana kiyai Masykur mengatakan mengatakan kepada Soekarno “saya menyetujui prinsip kemanusiaan akan tetapi harus adil jangan sampai membela anak sendiri sementara menindas yang lainnya karena Nabi pernah bersabda “jika Fatima mencuri saya akan memotong tangannya” siti Fatima adalah putri Nabi Muhammad SAW.

Dalam politik Islam ada tiga paradigma tentang hubungan antara negara dengan agama, antara lain:

  • Paradigma yang pertama adalah konsep bersatunya negara dan agama keduanya itu tidak dapat di pisahkan karena lembaga merupakan lembaga politik dan keagamaan sekaligus.
  • Paradigma yang kedua adalah merupakan anti tesis dari kelompok pertama bersifat sekularistikparadigma ini berpendapat bahwa negara bukan merupakan suatu kewajiban agama, dan mempunyai pengertian bahwa agama sama sekali tidak menyebutkan berdirinya negara
  • Paradigma ketiga adalah memandang antara agama dan negara berhubungan secara simbiotik yang mana makhsudnya disini adalah berhubungan secara timbal balik dan saling berkaitan dan disisi lain agama memerlukan negara karena dengan adanya negara maka agama akan bisa berkembang dan sebaliknya pun juga seperti itu

Hubungan antara penguasa dengan ulama yang mana ulama berada, di gardu paling depan untuk melakukan koreksi pada penguasa (umara) yang melakukan pertentangan legal dan terbuka adalah Imam Ahmad bin Hambal pada masa khalifah al-Ma’mun sepanjang zaman itu hukum positif yang diberlakukan oleh Umara senantiasa diawasi danb dari waktu ke waktu menjadi koreksi dari para ulama pengemban amanat pemeliharaan dan penerapan hukum Islam maka pembentukan hukum Islam lebih banyak berkembang di luar lembaga kekuasaan atau pemerintahan. Hukum Islam terbentuk dengan mantap dari dalam lembaga keilmuan dan dikalangan para ulama dan kesadaran hukum di kalangan rakyat, tumbuh berkembang dan terbentuk melalui jalur pendidikan dalam ilmu fiqih.

Hal itu memberikan dampak positif dalam memberikan daya tahan bagi hukum Islam itu. Yang terpentung adalah adanya pengawasan yuridis yang bebas terhadap perilaku yang ada di tangan umara, itu merupakan hal positif yang pertama, dan yang kedua, ialah nasib hukum Islam itu tidak tergantung pada nasib lembaga-lembaga kekuasaan yang dari waktu ke waktu tumbuh tenggelam, dan pada waktu-waktu tertentu menjadi hancur berantakan yang sangat menyedihkan ialah sekitar empat abad yang terakhir dari sejarah kaum muslimin selama lembaga-lembaga kekuasannya yang pernah jaya dan dibanggakan menjadi hancur berantakan di tangan-tangan penjajah barat.

Wilayah-wilayah Islam yang luas di Afrika, Timur Tengah dan Asia ditaklukkan oleh penjajah-penjajah itu dan menduduki kawasan yang terbentang luas itu sebagai penguasa-penguasa yang tidak disenangi dan tidak diakui legalitasnya oleh rakyat banyak oleh karenanya secara terpaksa mereka menciptalkan pengyasa-penguasa boneka dari bumi putera, atau memberi pengakuan terbatas kepada umara lokal dengan bentuk pemerintahan yang mereka namakan zelfkestuur.

Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama sampai terjadinya perubahan global dengan terjadinya perang dunia yang berjarak tidak terlalu lama yang mengubah struktur kekuasaan di seluruh dunia, maka di Indonesia lahirlah suatu negara merdeka (republik Indonesia) yang segera disambut oleh para ulama dengan suatu pengakuan legalitas diantaranya yang dicetuskan oleh pertemuan besasr para ulama di Surabaya. Pada awal Oktober 1945 yang menerima baik fatwa Rois Akbar Kyai Hasyim Asy’ari yang di dalamnya tercantum dua butir penting yang berkaitan langsung denganb kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan: Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah wajib di bela dan diselamatkan meskipun meminta pengorbananan harta dan jiwa.

Legalitas yang diberikan oleh para ulama tersebut diatas. Merupakan titik tolak yang penting dalam perkembangan ketatanegaraan dan hukum di Indonesia ini, yang mengantar adanya penegasan yang bersifat parsial status waliyu ‘i-amr kepada pemegang kekuasaan tertinggi di negara merdeka ini yaitu kepala negara (ketika di jabat oleh presiden Soekarno)

Dengan demikian hubungan antara penguasa dan ulama harus terus terjalin baik di dalam kondisi susah atau bahagia, dalam keadaan makmur atau kekurangan, tentu kita sangatlah merindukan dan mendambakan kehadiran ulama yang bisa memberikan nasehatnya terhadap penguasaa agar tetap berada pada mainstream yang telah digariskan oleh Allah SWT bukan sebaliknya, ulama yang membabi buta mendukung kezaliman yang jelas dipertontonkan penguasa.

PERANTAUAN JIWA

Di tengah malam nan buta

Kududuk sendiri di atas bumi-Mu

Tatkala ku di pandang ciptaan-Mu

Hati bergetar, lidah hambamu Ngelu

Tuk berucap subhanallah

Perjalanan jiwa bangkit

Kaki bergerak

Tuk menyeret dosa-dosa

Menuju maghfirah-Mu

Sejauh kaki melangkah

Sejauh pandangan mata

Sejauh itu pulalah

Kuseret dosa-dosa

Wahai Dzat Maha Suci

Adakah air tuk menyucikan jiwa ini…?

Raga ini berlumur hina tuk menghadap-Mu

Hati disemayami larangan-larangan-Mu

ALLAHUMMA IGHFIRLANA YA RABB

PENULIS :

Siti Romlah, Santriwati, PP. Nurul Jadid, Curah Kates krejengan Probolinggo. *

SEJARAH TEBUIRENG

Tebuireng yang selama ini terkenal diseluruh penjuru tanah air adalah nama sebutan pondok pesantren yang didirikan oleh hadratus syekh KH. M. Hasyim Asy’ari, terletak di arah selatan jombang kurang lebihnya 8 km, brerada di dusun yang dilalui jalan beraspal jurusan jombang-pare, terletak berseberangan denagn Pabrik Gula Cukir yang di bangun oleh Belanda. Nama Pesantren tersebut diambil dari nama dusun dimana pesantren tersebut berada.

Di dusun yang termasuk dalam wilayah kelurahan Cukir kecamatan Diwek, Pada tanggal 26 Rabbiul awwal 1317 H (yang bertepatan dengan tanggal 3 agustus 1899 M) berdirilah dengan kokoh sebuah pesantren tebuierng sederhana dan kelak menjadi pesantren sangat terkenal di seluruh dunia berdiri dengan kokohnya. Sehingga nama tebuireng bukan hanya nama sebuah dusun, tapi telah melekat erat dengan nama pesantren hingga kini. Demikian juga pendirinya, hadrotus syaikh K.H M. HASYIM ASY’ARI juga terkenal dengan sebutan “Kyai Tebuireng”.

Dusun tebuireng dahulu konon bernama “KEBOIRENG” adalah profil sebuah dusun yang sesuai dengan nama aslinya “sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan semua perilaku negative lainnya ” namun sejak datangnya kyai hasyim asy’ari bersama santri yang beliau bawa dari pesantren kakeknya (Kyai Ustman) dari dusun Nggedang Kec.Tambelangan (wilayah utara kota jombang) pada tahun 1899 M. Secara bertahap lifestyle kehidupan dusun setempat berubah semakin baik, dan lama-kelamaan semua perilaku masyarakatnyapun terkikis habis dalam masa yang relatif singkat, dan santri yang mulanya beberapa orang dalam beberapa bulan saja mulai meningkat menjadi 28 orang.

Awal mula kegiatan kyai hasyim asy’ari di dusun tersebut di pusatkan di sebuah bangunan kevil yang terdiri dari 2 ruangan terbuat dari anyam-anyaman bamboo (jawa : teratak), bekas sebuah warung pelacuran, yang luasnya kurang lebih 6 X 8 meter, yang beliau beli dari sebuah dalang terkenal, 1 ruang depan untuk musholla dan kegiatan pengajian, sementara yng belakang sebagai tenpat tinggal Kyai Hasyim Asy’ari dan Ibu Nyai Chotijah. Tentu saja dengan kegiatan tersebut tidak begitu saja memperoleh sambutan dari penduduk setempat, tantangan demi tantangan yang tidak ringan dari penduduk setempat datang silih berganti, para santri hamper setiap malam selalu mendapat tekanan fisik berupa senjata celurit dan pedang, kalau tidak waspada bias saja di antara santri terluka kena bacokan, bahakn untuk menghindari gangguan para perampok setiap malam, para santri harus tidur bergerombol menjauh dari dinding bangunan pondok yang hanya terbuat dari bambu itu agar terhindar dari jangkauan tangan–tangan jahil para penjahat. Gangguan semacam itu di alami oleh kyai hasyim asy’ari dengan para santrinya sampai kurun waktu 2 ½ tahun kurang lebihnya dan untuk mengantisipasi kejadian tersebut yang setiap saat menggengu ketenengan santri maka kyai hasyim asy’ari menyiagakan para santri untuk berjaga malam secara bergiliran setiap saatnya.

Akan tetapi tantangan demi tantangan secara fisik tampaknya masih saja mengganggu ketenangan belajar para santri, hingga kyai hasyim asy’ari memutuskan untuk mengirim utusan ke cirebon guna mencari bantuan berbagai ilmu kanuragan kepada 5 kyai natara lain :

Ø Kyai Shaleh Benda

Ø Kyai Abdullah Pangurangan

Ø Kyai Syamsuri Wanantara

Ø Kyai Jamil Buntet

Ø Kyai Shaleh Benda Kerep

Dari ke-5 kyai ahli kanuragan yang di datangkan dari cirebon itulah kyai hasyim asy’ari belajar ilmu silat dan kuntau selam 8 bulan. Dan sejak saat itu semakin mantab keberanian kyai hasyim asy’ari untuk melakukan ronda sendirian pada malam hari untuk menjaga ketentraman santri-santrinya.

Keberadaan pesantren tebuierng semakin mendapat perhatian yang sangat lebih dari masyarakat sempat dan sekitar jombang, perannya sebagai lembaga tafaqquh fiddin, lembaga khusus yang menyiapkan generasi teleh memperoleh tempat sendiri di hati para masyarakat. Dan semakin menambah pula santri kyai hasyim asy’ari dari berbagai penjuru tanah air walaupun pondok belum genap usia 5 tahun ketika itu, tapi santri berambah kurang lebihnya 200 orang. Menginjak usia yang kesepuluh jumlah santri mencapai 2000 orang, yang antara lain bersal dari Singapura dan Malaysia.

Pengakuan resmi berdirnya ponpes tebuireng dari pemerintah Hindia belanda yang masih menjajah Indonesia pada masa silamnnya pada saat itu diperoleh pada tanggal 6 february 1906 M. yang bertepatan dengan tanggal 26 rabbiul awal 1324 H.

Biografi KH. M. Hasyim Asy’ari

Kiai hasyim dilahirkan pada hari selasa kliwon, 24 Dzul Qa’dah 1287 H bertepatan dengan 14 februari 1871 M di desa nggedang, jombang. Dari garis ibu, halimah, kiai hasyim masih terhitung keturunan ke-8 dari jaka tingkir alias sultan pajang. Jaka Tingkir yang tak lain putra raja Brawijaya VI alias Lembu Peteng adalah sosok yang berhasil mengislamkan Pasuruan dan sekitarnya. Walaupun demikian, kiai hasyim tidak pernah merasakan serba-serbi kerajaan. Ia tumbuh dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga kiai. Ayahnya, kiai Asy,ari adlahn pengasuh Pesantren Keras yang berada disebelah selatan jombang.
Kakekanya, kiai Utsman Asy’ari adalah pengasuh pesantren Nggedang, yang santrinya bersal dari seluruh jawa, pada akhir abad 19. Sedangkan buyutnya (ayah dari kakeknya ), kiai Sihah, pendiri pesantren Tambakberas di Jombang.
Sejak kecil, hingga berusia 14 tahun, putra ke-3 dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya (kiai Asy’ari & kiai Ustman). Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar dengan giat dan rajin. Al-hasil, ketika berusia 13 tahun kiai hasyim diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kiai hasyim sudah terlihat mumpuni.
Keberhasilannya dalam menyerap ilmu-ilmu yang telah diajarkan oleh ayah dan kakeknya tidak membuat kiai hasyim puas diri dalam menuntut ilmu. Dan kiai hasyim pun berencana melanjutkan studinya di pesantren-pesantren lain dari luar daerahnya.
Ketika berusia 15 tahun, kiai hasyim meninggalkan kedua orang tuanya dan memulai pengembaraanya dalam menuntu ilmu. Beliau berpindah-pindah dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain.
Mula-mula kiai hasyim nyantri di pesantren Wonokoyo Probolinggo. Kemudian yantri ke Pesantren Langitan, Tuban. Dan setelahnya nyantri ke Pesantren Trenggilis, Semarang. Terus nyantri lagi di Demangan, Bangkalan di Pulau Garam (Madura) di bawah asuhan kiai cholil. Dan nyantri lagi demi memuaskan jiwanya yang haus akan ilmu pengetahuan di Pesantren Siwalan, Panji (sidoarjo) yang di asuh kiai Ya’qub inilah, kiai hasyim semacam benar-benar menemukan sumber islam yang diinginkan. Kiai Ya’qub dikenal sebagian ulama’ berpandangan luas cukup alim dalam beragama, cukup lama kiai hasyim menimba ilmu di Pesantren Siwalan, dalam kurun waktu sekitar 5 tahun kiai hasyim menimba ilmu di Pesantren Siwalan.
Dengan kecerdasan dan kealiman kiai hasyim maka kiai ya’qup kesengsem berat kapadanya. Akhirnya kiai hasyim di ambilnya sebagai menantu, saat usianya masih 21 tahun, kiai hasyim menikah dengan nyai Chadidjah, putrid kiai ya’qub. Tidak lama setelah menikah kiai hasyim bersama istrinya berangkat ke makkah guna menunaikan ibadah haji. 7 bulan disana, lalu kembali ketanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893 M, kiai hasyim kembali menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di makkah. Beliau menetap di sana selama 7 tahun dan bergu kepada ulama’ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Mahfuzh at-Termasi di bidang Hadis. Pada tahun 1899 M kiai hasyim kembali ketanah air Indonesia. Dalam perjalanan pulang, kiai hasyim singgah di johor, Malaysia dan mengajar disana selama beberapa kurun waktu. Sesampai di Indonesia kiai hasyim mengajar di pesantren milik kakeknya, kiai ustman di nggedang, jombang.
Tidak lama kemudian kiai hasyim mendirikan pesantren di Tebuireng pada tanggal 12 Rabiul Awal 1317 H (1899 M). tahun.

Sejarah Walisongo

Oleh : Atika Rahmani el Wafy*

Berbicara tentang sejarah doktren Walisongo, maka tdk dpt lepas dari sejarah Perguruan Mu’allimat karena adanya Walisongo berawal dari Mu’allimat. Mlam hari 1951 M, tokoh-tokoh terkemuka & kepsek kec. Diwek berkumpul untuk membahas tentang kelanjutan pendidikan siswi tamatan Ibtidaiyah yang tdk mampu melanjutkan studinya keluar daerah karena masalah ekonomi. karena itu, maka didirikanlah lembaga pendidikan SLTP & SLTA, dan dinamai “MU’ALLIMAT”.
lambat laun kepercayaan orang-orang sekitar semakin bertambah, bahkan siswi diluar daerah pun semakin banyak. maka tahun 1952 M,dibuatlah sebuah asrama untuk siswi dari luar daerah yang diberi nama “WALISONGO” oleh bu “Nyai Hj. Halimah”. Awal mula jumlah santrinya cuma 7, dan menempati kamar dapur, Almarhum Syekh KH. M. Adlan Aly mengajarkan kitab kuning, seperti hadis, fiqih, akhlak dan tauhid. kegiatan ini pertama-tama langsung dibimbing oleh bu nyai, namun setelah berkembang & kekurangan biaya, maka langsung diserahkan kepada Almukarram Adlan Aly.
Kepemimpinan waktu itu masih “sentralisme” langsung ditangani oleh mbah kyai Adlan Aly. tipe kepemimpinan beliau adalah “demokratis”, mengaturnya tidak “konversional” tetapi sangat “sistematis”. pada tahun ke-2, santri bertambah banyak namun kamar tidak mencukupi, maka tanggal 14 September 1953 dapur tersebut direnovasi untuk dijadkan asrama. pada tahun 1954, komplek pondok ini direhabilitasi sehingga ada 14 kamar dan 1 mushalla. pengajian tahun 1954 dibantu oleh menantu pertama (dari Almarhum Nyai Mustaghfiroh) beliau, yaitu KH. Aly Ahmad. kemudian pada 3 tahun berikutnya putra-putri beliau berinisiatif untuk mengenalkan ilmu umum dan Ulumul ‘Ashiriyah, hingga tahun 1968 santri mengadakan kursus-kursus keorganisasian sampai sekarang.

* Penulis adalah santriwati di Doktren Walisongo Cukir-Jombang

PELITA

Engkaulah pelita

Dan kami cahaya

Berjuta-juta cahaya

Terpancar dari pelita yang sama

Berganti warna,

Seiring waktu yang berbeda

Pelita tak pernah berubah

Cahaya bertingkat-tingkat

Dengan sesama cahaya

Satu lenyap tertindih yang lainnya

Melebur menjadi cahaya utama

Kemudian lenyap,

Engkaulah sumber cahaya

Dan kami salah satu cahayanya

Dari miliaran pancaran cahaya

Yang terpancar dari sang pelita….

bY: tieka el-hafi

Indahnya Persahabatan Dalam Islam

Manusia dalam hidupnya tidak bisa lepas dari orang lain. Bergaul menjadi fitrah dan kebutuhan dasar manusia. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus menjalin hubungan dengan sesamanya. Kehadiran orang lain adalah suatu keharusan karena manusia tidak bisa hidup sendiri.

Menyadari hal diatas, dalam menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain, manusia harus menjunjung tinggi prinsip simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan). Dan hubungan yang semata-mata hanya untuk memperoleh ridha Allah SWT. Bukan hanya untuk tujuan tetentu yang hanya menguntungkan diri sendiri. Karena bila demikian, ikatan tersebut tidakakan kekal. Persahabatan itu akan hilang seiring tergapainya tujuan yang diinginkannya. Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, “Sesungguhnya siapa saja yang senang kepadamu karena adanya keinginan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.

Nabi Muhammad SAW pernah mengibaratkan ikatan persahabatan antar dua orang muslim dengan kedua belah tangan. Beliau tidak memakai perumpamaan lain karena jalinan hubungan antar kedua tangan sangat cocok untuk dijadikan, ibarat dalam menjalani hubungan sesama manusia. Kita bisa melihat bagaimana kedua belah tangan saling membantu satu sama lain dalam usaha menggapai tujuan. Keduanya bersatu padu dalam mewujudkan tujuan. Keduanya melebur menjadi satu untuk mencapai tujuan yang sama.

Demikian juga jalinan persahabatan manusia akan lebih indah seandainya dilandasi dengan semangat kerjasama sebagaimana kedua belah tangan. Mereka senantiasa saling bahu-membahu untuk mencapai bersama. Menanggung bersama setiap kesedihan yang menimpa. Dan setiap kebahagiaan akan selalu dinikmati bersama. Dalam situasi dan kondisi apapun jalinan kerjasama terus berlanjut. Saling membantu saat dibutuhkan walau tanpa diminta serta saling menjaga rahasia dan aib. Bersabda, “Paling utamanya amal baik ialah memberi kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”. (HR. Ibnu Abi Dunya).

Selain itu, seseorang dalam bergaul juga dituntut untuk selalu menampakkan wajah ceria. Mengucapkan salam jika bertemu. Memaafkan bila terjadi kekeliruan. Saling memberi nasihat. Sama-sama mendo’akan karena do’a seseorang untuk temannya mudah terkabulkan. (HR. Muslim). Dan yang paling sulit adalah saling mengorbankan harta benda yang dimilki. Imam Al-Ghazaali membagi 3 jenis sikap manusia dalam memberikan pengorbanan terhadap orang lain. Pertama, memposisikan teman sebagaimana hamba sahaya atau budak. Dalam arti selalu memenuhi kebutuhannya meskipun tanpa diminta. Kedua, memposisikannya seperti diri sendiri. Sehingga apa yang dimilki rela untuk digunakan bersama. Ketiga, tingkatan tertinggi dalam pengorbanan. Yaitu selalu mengutamakan kepentingannya dari pada kepentingan sendiri.

Indahnya persahabatan antar orang mukmin sehingga bisa menumbuhkan rasa persaudaraan yang kokoh dapat kita baca pada kisah sahabat Muhajirin dan Anshor. Terutama kisah antara Sa’ad bin Rabi’ dengan Abdurrahman bin ‘Auf. ” Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya” ucap Sa’ad kepada Abdurrahman untuk membantu memringankan Abdurrhman. “Silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah,” tegas Sa’ad. Bahkan Sa’ad bin Rabi’ menambah penawarannya, ” Akupun mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatianmu, akan kuceraikan ia hingga engkau dapat memperistrinya”.

Dari kisah diatas, kita bisa membaca betapa kuatnya ikatan persahabatan dan rasa persaudaraan antar sahabat Anshar dan Muhajirin. Sebuah ikatan yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan. Ikatan yang betul-betul karena untuk meraih ridha Allah SWT. Bukan karena untuk maksud tertentu.

semoga kisah diatas bisa dijadikan cerminan dulur-dulur…….

sebagaimana amal perbuatan kedua yang sangat dicintai oleh ALLAH SWT yaitu “menyambung tali silaturahim”. (hadratus syaikh KH. hasyim asy’ari).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.